Minggu, 05 April 2015

Wahai Sahabat, Jangan Nikahi Wanita Karena 3 Hal Ini

http://t0.gstatic.com/images?q=tbn:ANd9GcSz92xFVh13sMjdQRd7ylkewyafdqkuvm_Wv6GKS5kAxyNUGuXk

Dikutip dari KeluargaCinta.Com.

Masih menjadi perbincangan yang seru tentang kriteria calon pendamping hidup. Sebab menikah dianggap hanya dan harus sekali, maka jangan sampai salah pilih.

Selain itu, menikah merupakan sebuah terminal kehidupan baru yang amat berpengaruh dalam menentukan kelangsungan kehidupan seseorang; apakah bertambah sukses, bahagia, dan aneka jenis kebaikan lain, atau sebaliknya.

Maka, kriteria pendamping hidup ini amat penting untuk diupayakan. Meski sayangnya, banyak yang salah paham dan mengada-ada.

Jika kriteria kebaikan calon pendamping hidup dirangkum dalam satu kata ‘agamanya’, maka Islam pun berwasiat agar kaum muslimin jangan memilih wanita tertentu yang akan dinikahi.

Apa saja yang termasuk dalam makna kata ‘jangan’, dan apakah alasannya?

“Jangan menikahi wanita karena kecantikannya,”

Jangan sekalipun memutuskan menikahi wanita hanya karena putih kulitnya, bening wajahnya, lurus rambutnya, bagus fisiknya, ataupun aurat lain yang terbuka secara sengaja.
Sebab, jika kita menikahi seseorang hanya karena fisiknya, kata Nabi, “Karena mungkin itu membawa fitnah bagimu.”

“Jangan menikahi wanita karena hartanya,”

Hindari pernikahan yang motivasi utamanya adalah harta. Hanya karena anak konglomerat, anda tertarik untuk mempersuntingnya. Hanya karena miliki banyak aset berupa rumah, vila, mobil, dan perhiasan mewah; kemudian anda berhasrat untuk menjadikannya sebagai pendamping hidup.
Karena, pesan Nabi, “Mungkin hal itu akan merendahkanmu.”

“Jangan menikahi wanita karena nasab mulianya,”

Nasab itu menggoda. Sebab ada imajinasi kemuliaan di dalamnya. Bukankah jika menjadi menantu seorang presiden, maka ia akan lebih disanjung dibanding hanya menantu penjual duren?

Maka, tahanlah diri jika hasrat itu makin menggebu. Sebab jika menikahi seorang wanita karena nasabnya semata, nasihat Nabi, “Mungkin itu menyebabkan kehinaanmu.”

Itulah larangan Nabi. Redaksi yang digunakan amat jelas. Sebab, orientasi fisik, harta maupun nasab, sifatnya hanya sementara.

Ketiganya akan sirna tak bermakna tanpa pemahaman agama yang bagus dan perangai yang mulia. Apalagi, harta, wajah, dan nasab; bisa sirna dalam hitungan detik atau lebih cepat lagi.

Dan, ketika sebab itu hilang, hilang pula rasa cinta; ujungnya adalah perselisihan, perceraian dan siksa jika pelakunya tidak bertaubat dan semakin terjerumus dalam godaan setan.

Maka, lanjutan sabda Nabi yang diriwayatkan oleh Imam Ibnu Majah, al-Bazzar, al-Baihaqi, dari Abdullah bin Amr ini, “Namun, nikahilah mereka karena agamanya. Sesungguhnya budak berkulit hitam lebih baik, asal baik agamanya.” [Pirman]



Sumber : keluargacinta.com

Ketauilah Sahabat, Inilah Yang Akan Diterima Setan Jika Terjadi Perceraian

https://youremotherfucker.files.wordpress.com/2013/10/perceraian.jpg

Dikutip dari KeluargaCinta.Com.

Saat seseorang memulai hubungan dengan pacaran, setan akan menghiasi setiap keburukan dan kehinaan di antara keduanya dengan keindahan nan memesona. Alhasil, dalam proses pacaran itu, semua terlihat indah dan sulit dilupakan.

Jika kedua pasangan pacaran itu ditakdirkan untuk menikah, ada yang mengalami perbedaan signifikan, sebab keindahan itu perlahan sirna. Bahkan, tak jarang yang menjadi petaka. Sebabnya, setan amat membenci pernikahan, dan membuka bungkus keindahan yang selama ini disematkan pada mereka yang berpacaran.

Jika keadaan ini tidak segera diatasi hingga semakin meninggi gunung dan meluas samudera, maka keharmonisan yang diimpikan dalam pernikahan pun sirna secara perlahan. Dalam jangka yang panjang, persoalan kecil bisa diraksasakan, hingga berujung keributan dan perceraian. Kita berlindung kepada Allah Ta’ala dari buruknya perceraian, meski dalam tahap tertentu hal itu bisa menjadi solusi.

Setan sebagai musuh utama manusia, amat menaruh perhatian kepada mereka yang telah menikah. Mereka yang memiliki singgasana di atas air itu, setiap detik mengutus pasukannya untuk menggoda umat manusia dari berbagai penjuru dengan beragam cara.

Kedudukan pasukan setan ditentukan berdasarkan kedekatan posisinya dengan raja setan. Maka yang paling tinggi kedudukannya adalah ia yang paling dekat tempat duduknya.

Suatu hari, sebagaimana disebutkan dari Jabir bin Abdullah, “Seorang pasukan setan datang melapor, ‘Aku masih terus menggoda si fulan sebelum aku meninggalkannya dalam keadaan ia berkata begini dan begitu.’”

Lalu, Iblis yang merupakan raja setan berkata, “Demi Allah, engkau tidak melakukan apa pun kepada mereka.”

Rupanya, jika umat manusia hanya mengatakan ini dan itu sebab diganggu oleh setan, meski dampak buruknya dirasakan oleh sekitar, hal itu bukanlah apa-apa bagi Iblis dan sekutunya.

Kemudian datanglah pasukan yang lain seraya melaporkan hasil pekerjaannya, “Aku tidak meninggalkannya sehingga memisahkannya dari istrinya.”

Mari lihat apa yang dilakukan oleh Iblis terhadap setan yang barusan melapor. Coba perhatikan apa yang akan ia dapatkan. Coba amati, dan rasakan, betapa Iblis memberikan penghargaan yang tinggi kepadanya.

Dalam hadits yang diriwayatkan oleh Imam Muslim ini disebutkan, “Iblis mendekati dan memeluknya karena gembira. Lalu, ia berkata, ‘Engkaulah yang paling hebat (dalam menjerumuskan manusia).’”

Sahabat, mintalah perlindungan kepada Allah Ta’ala dari godaan setan yang terkutuk. Semoga Allah Ta’ala melimpahkan keberkahan dalam pernikahan kita; dan menyatukan kita bersama istri hingga ke surga-Nya. Aamiin. [Pirman]

Sumber : keluargacinta.com

Ketauilah Wahai Para Istri, Jangan Lakukan Ini Kepada Suamimu

http://bloggercoretanku.blogspot.com/

Dikutip dari KeluargaCinta.Com.

Ada banyak ilmu yang harus dipelajari oleh mereka yang telah berumah tangga. Ada banyak pengetahuan yang kudu dikuasai oleh pasangan suami istri. Adanya ilmu adalah sarana yang bisa menentukan bahagia atau tidaknya sebuah ikatan pernikahan.

Pernikahan adalah awal. Banyak sekali hal baru di dalamnya. Sebab itu, ada proses perkenalan panjang yang harus dilakukan oleh seseorang kepada pasangan sahnya itu.

Mengenali pasangan adalah pintu untuk saling memahami dan berlanjut pada tolong menolong atas dasar kasih sayang dan cinta. Dari baiknya pengenalan seseorang kepada pasangannya itulah kelak yang membuat rumah tangga serasa serambi surga.

Beruntungnya, dalam ajaran Islam yang mulia, ada sekian banyak panduan bagi suami istri untuk menggapai pernikahan penuh kegembiraan yang dibahasakan dengan berkah. Ialah sebuah rumah tangga sakinah penuh ketenangan, mawadah sarat cinta, dan rahmah yang bertabur kasih sayang.

Ada kerja panjang untuk wujudkan ini. Ada usaha berat untuk menggapainya. Pun, harus diiringi kesungguhan dengan harga yang tak murah untuk mendapatkannya.

Karenanya pula, dalam pernikahan ada pahala yang agung. Sebab ianya termasuk hidupkan sunnah, sebab ianya butuh pengorbanan yang tak ringan.

Di antara panduan Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam dalam hal ini adalah larangan bagi para istri untuk tidak sembarangan bercerita kepada suaminya. Sebab, salah cerita bisa berakibat fatal berupa perselingkuhan maupun perceraian.

Apakah hal yang dilarang oleh Nabi untuk diceritakan kepada suami?

Disebutkan dalam kitab Shahih Imam Bukhari dan Imam Muslim, Nabi Shallallahu ‘alaihi wa Sallam bersabda, “Seorang perempuan tidak boleh menggambarkan sifat perempuan lain kepada suaminya,” pungkas Nabi, “hingga seolah-olah suaminya melihatnya.”

Inilah larangan itu. Inilah hal yang kini dianggap remeh oleh para muslimah istri kaum muslimin. Padahal, dari sinilah setan bermain untuk keruhkan hubungan antara suami dan istri. Dan, dari sinilah bermula perselisihan rumah tangga yang ujungnya perceraian.

Ironisnya, istri masa kini bukan hanya menceritakan sifat wanita lain. Bahkan, sengaja atau tidak, mereka telah memberi izin kepada suaminya untuk menyaksikan fisik wanita lain.

Baik melalui tontonan sinetron dengan bintang film yang berpakaian apa adanya, biduan dangdut dengan dandanan mengundang syahwat, hingga mengajak suami jalan-jalan sesering mungkin ke pusat perbelanjaan yang terdapat banyak wanita mempertontonkan auratnya.

Wahai para istri, bantulah suamimu untuk menundukkan pandangannya. Bantulah, sebab dia imammu. Sebab melaluinya terdapat keselamatanmu. [Pirman]

Sumber : keluargacinta.com

Adakah yang Mau Menikah Denganku ?

http://www.addriadi.com/wp-content/uploads/2013/06/menikah2.jpg

Dikutip dari KeluargaCinta.Com

Ada banyak alasan mengapa seseorang tak kunjung menikah. Bagi seorang lelaki, di antara alasan yang membuatnya enggan ajukan diri untuk melamar adalah persoalan fisik.

Meski memiliki anggota tubuh yang lengkap, seorang lelaki bisa urung ajukan diri sebab merasa tak tampan; pendek, gemuk, hitam, rambut ikal, bicara tak lancar; dan semua hal itu bersatu dalam dirinya.

Padahal, menikah lebih dari sekadar fisik. Ada hal lain yang lebih patut diupayakan sehingga seseorang layak menikah, atas Kehendak Allah Ta’ala tentunya.

Sahabat Nabi yang satu ini, digambarkan oleh Salim A. Fillah dalam Lapis-Lapis Keberkahan sebagai sosok yang, “Wajahnya yang jelek terkesan sangar. Pendek. Bungkuk. Hitam. Fakir. Kainnya usang. Pakaiannya lusuh. Kakinya pecah-pecah tak beralas. Tak ada rumah untuk berteduh.”

Adakah di antara kita yang tak lebih baik kondisi fisiknya dari sahabat ini? Kelak, sahabat yang tak elok dalam kaca mata manusia umumnya, akhir hayatnya membuat kita iri sebab dikatakan oleh Nabi, “Dia adalah bagianku. Aku adalah bagian darinya.”

Mari sejenak amati kisah pernikahannya. Agar anda yang merasa tak tampan bisa lebih optimis. Sebab, sekali lagi, menikah bukan sekadar alasan fisik.

Tanya Nabi setelah menyapa nama sahabat ini, “Tidakkah engkau menikah?”

Mari simak jawaban sahabat ini, “Siapakah orangnya yang mau menikahkan putrinya dengan diriku, wahai Rasulullah?”

Jawaban yang terlontar bukanlah jawaban penyesalan. Bahkan ia menyampaikannya dengan tetap tersenyum sebagai wujud syukurnya kepada Allah Ta’ala atas karunia fisik yang dikurniakan padanya.

Pada hari berikutnya, hingga berlalulah tiga hari, Rasulullah Shallallahu ‘alaihi wa Sallam mendapati jawaban yang sama saat beliau tanyakan soalan serupa.

Karenanya, pada hari ketiga, beliau menggamit lengan sahabatnya itu dan membawanya ke sebuah rumah milik sahabat Anshar.

“Wahai saudaraku,” ujar sang Nabi, “aku ingin menikahi putrimu.” Belum tunai ucapan Rasul, tuan rumah yang juga wali sang gadis sudah merasa bahagia dan amat tersanjung.

“Tapi,” lanjut Nabi, “bukan denganku.”

Tuan rumah pun menjawab, “Lantas, dengan siapa ya Rasulullah.”

Jawab sang Nabi, “Dengan sahabatku, Julaibib.”

Mendengar nama yang disebut, ia yang sedianya sumringah pun agak menundukkan wajah. Kemudian berkata penuh tunduk kepada Nabi, “Izinkan aku bermusyawarah dengan istriku.”

Di dalam kamar, keduanya berdebat agak lama. Kesimpulannya, tak ada izin bagi sang putri sebab mempelai lelakinya adalah Julaibib yang sama sekali tak diperhitungkan.

Namun, dari balik tirai, sang putri bertanya tegas, “Apakah kalian hendak menolak permintaan Rasulullah?” Lanjutnya tanpa ragu, “Demi Allah, bawa aku padanya.”

Masya Allah… Itulah wanita idaman. Itulah sosok shalihah yang harapannya surga. Itulah teladan yang tak pandang wajah, tapi terpesona dengan iman.

“Demi Allah,” lanjutnya kepada kedua orang tua seraya meyakinkan dirinya, “karena Rasulullahlah yang meminta,” pungkasnya amat yakin, “maka tiada akan dia membawa kehancuran dan kerugian bagiku.”

Memang, keduanya tak lama bersama di dunia. Sebab Julaibib lebih dikehendaki oleh bidadari di langit. Ia syahid. Dan istrinya menjadi sosok yang kedermawanannya sulit tertandingi.

Memang benar jika Nabi sudah tidak ada. Tapi bagi anda yang minder sebab tampilan fisik, maka teladanilah Julaibib dalam keshalehannya. Sebab, ia adalah sosok yang terdepan dalam shalat dan jihad di jalan Allah Ta’ala. [Pirman]

Sumber : http://keluargacinta.com